2.2.1 Review
Buku 2
Pengarang : Ika Widiyanti
Bab 1. Menyusun Standard Operating Procedure
(SOP)
A. Pengertian SOP
Menurut
KBBI, istilah prosedur dapat diartikan sebagai tahap kegiatan untuk
menyelesaikan suatu aktifitas atau metode langkah demi langkah secara pasti
dalam memecahkan suatu masalah.
Berdasarkan
pengertian istilah prosedur tersebut, maka Standard Operating Procedure atau
SOP merupakan petunjuk bagi pegawai untuk melaksanakan suatu pekerjaan dengan
standar yang telah ditetapkan, bagi dunia kerja.
Berikut ini adalah beberapa pengertian SOP :
1. SOP
adalah serangkaian instruksi yang menggambarkan pendokumentasian dari kegiatan
yang dilakukan secara berulang pada sebuah organisasi (EPA, 2001).
2. SOP
adalah suatu panduan yang menjelaskan secara terperinci bagaimana suatu proses
harus dilaksanakan (FEMA, 1999).
3. SOP
adalah serangkaian instruksi yang digunakan untuk memecahkan suatu masalah
(Lingappan, 2000).
4. SOP
adalah sebuah panduan yang dikemukakan secara jelas tentang apa yang diharapkan
dan apa yang diisyaratkan dari semua karyawan dalam menjalankan kegiatan
sehari-hari (”Developing Standard Operating Procedures in Wildland Fire
Management”, 2003).
Dari beberapa definisi diatas, dapat
disimpulkan bahwa SOP adalah panduan hasil kerja yang diinginkan serta proses
kerja yang harus di laksanakan. Implementasi SOP yang baik akan menunjukkan konsistensi
hasil kerja, hasil produk dan proses pelayanan seluruhnya dengan mengacu kepada
kemudahan, pelayanan dan pengaturan yang seimbang.
B. Tujuan SOP
2. Memudahkan
proses pemahaman (penguasaan tugas) staff secara sistematis dan general.
3. Menghindari
“error” dalam proses kerja.
4. Mempermudah
mengetahui terjadinya kegagalan.
5. Memudahkan
dalam hal monitoring dan menjalankan fungsi kontrol dari setiap proses kerja.
6. Menghemat
waktu dalam program training, karena dalam SOP tersusun secara sistematis.
C. Fungsi SOP
Fungsi
SOP adalah untuk mendefinisikan semua konsep dan tekhnik yang penting serta
persyaratan yang dibutuhkan, yang ada dalam setiap kegiatan yang dituangkan
kedalam suatu bentuk yang langsung dapat digunakan oleh karyawan dalam
pelaksanaan kegiatan sehari-hari. Secara rinci, fungsi SOP adalah sebagai
berikut :
1. Memperlancar
tugas petugas/pegawai atau tim/unit kerja.
2. Sebagai
dasar hukum bila terjadi penyimpangan.
3. Mengetahui
dengan jelas hambatan-hambatannya dan mudah dilacak.
4. Mengarahkan
petugas/pegawai untuk sama-sama disiplin dalam bekerja.
5. Sebagai
pedoman dalam melaksanakan pekerjaan rutin.
D. Ruang Lingkup SOP
Ruang
lingkup SOP meliputi semua proses yang terjadi dalam suatu perusahaan baik
administrasi maupun tindakan langsung, baik internal maupun eksternal
perusahaan yang dilaksanakan oleh tiap-tiap unit departemen.
E. Jenis-Jenis SOP
1. Berdasarkan
sifat kegiatan
a. SOP
Teknis
SOP Teknis adalah prosedur standar yang sangat rinci dari
kegiatan yang dilakukan oleh satu orang aparatur atau pelaksana dengan satu
peran atau jabatan.
Contoh SOP Teknis adalah : SOP pengujian sampel di
Laboraturium, SOP perakitan kendaraan, SOP pengagendaan surat dan SOP pemberian
disposisi.
b. SOP
Administratif
SOP administratif adalah
prosedur standar yang bersifat umum dan tidak rinci dari kegiatan yang
dilakukan oleh lebih dari satu orang aparatur atau pelaksana dengan lebih dari
satu peran atau jabatan. Ciri-ciri SOP Administratif adalah :
1) Pelaksana
kegiatan berjumlah banyak atau lebih dari satu aparatur atau lebih dari satu
jabatan dan bukan merupakan satu kesatuan yang tunggal.
2) Berisi
tahapan pelaksanaan kegiatan atau langkah-langkah pelaksanaan kegiatan yang
bersifat makro ataupun mikro yang tidak menggambarkan cara melakukan kegiatan.
Contoh SOP Administratif adalah : SOP pelayanan pengujian
sampel Laboraturium, SOP pelayanan perawatan kendaraan, SOP penanganan surat
masuk dan SOP penyelenggaraan bimbingan teknis.
2. SOP Menurut Cakupan dan Besar Kegiatan
a. SOP
Makro
SOP makro merupakan integrasi dari beberapa SOP mikro yang
membentuk serangkaian kegiatan dalam SOP tersebut. SOP makro tidak mencerminkan
kegiatan sesungguhnya yang dilakukan pelaksana.
Contoh SOP makro : SOP pengelolaan surat yang merupakan SOP
makro dari SOP penanganan surat masuk, SOP pemberian tanggapan terhadap surat
masuk, dan SOP pengiriman
surat.
b. SOP
mikro
SOP mikro merupakan bagian dari sebuah SOP makro atau SOP
yang kegiatannya menjadi bagian dari kegiatan SOP makro yang lebih besar cakupannya.
SOP mikro mencerminkan kegiatan yang dilakukan pelaksana.
Contoh SOP mikro : SOP penanganan surat masuk, SOP
pemberian tanggapan terhadap surat masuk, dan SOP pengiriman surat merupakan
SOP mikro dari SOP pengelolaan surat.
3. SOP
Menurut Cakupan dan Kelengkapan Kegiatan
a. SOP
Final
SOP final adalah SOP yang berdasarkan cakupan kegiatannya
telah menghasilkan produk utama yang paling akhir atau final.
Contoh : SOP penyusunan pedoman merupakan SOP final dari
SOP penyiapan bahan penyusunan pedoman.
b. SOP
Parsial
SOP Parsial adalah SOP yang berdasarkan cakupan kegiatannya
belum menghasilkan produk utama yang paling akhir atau final, sehingga kegiatan
ini masih memiliki rangkaian kegiatan lanjutan yang mencerminkan produk utama
akhirnya.
Contoh : SOP penyiapan bahan penyusunan pedoman yang
merupakan bagian (parsial) dari SOP penyusunan pedoman.
4. SOP
Menurut Cakupan dan Jenis Kegiatan
a. SOP
Generik
SOP Generik (umum) adalah SOP berdasarkan sifat dan muatan
kegiatannya relatif memiliki
kesamaan baik dari kegiatan yang di-SOP-kan maupun dari tahapan kegiatan dan
pelaksananya.
Contoh : SOP pengelolaan keuangan di satker A dan SOP
pengelolaan keuangan di satker B memiliki SOP generik : SOP pengelolaan
keuangan dengan aktor : KPA, PPK, Bendahara, dan seterusnya.
b. SOP
Spesifik
SOP spesifik (khusus) adalah SOP berdasarkan sifat dan
muatan kegiatannya relatif memiliki perbedaan dari kegiatan yang di-SOP-kan,
tahapan kegiatan, aktor (pelaksana) dan tempat SOP tersebut diterapkan.
Contoh : SOP pelaksanaan publikasi
hasil uji laboraturium A pada instansi Z hanya berlaku pada laboraturium A di
instansi Z tidak berlaku di laboraturium lainnya meskipun di instansi Z
sekalipun.
F. Simbol-Simbol
SOP
Dalam penyusunan SOP, pemakaian
simbol-simbol sangat diperlukan. Pembuatan SOP biasanya berbentuk diagram atau flowchart atau diagram alir. Flowchart
biasanya digunakan jika dalam SOP tersebut diperlukan pengambilan keputusan
yang banyak dan memerlukan jawaban “ya” atau “tidak” yang akan memengaruhi sub
langkah berikutnya. Flowchart
merupakan cara penyajian suatu logaritma.
Tujuan pembuatan flowchart adalah untuk
menggambarkan suatu tahapan penyelesaian masalah secara sederhana, terurai,
rapi, dan jelas dengan menggunakan simbol-simbol standar. Simbol-simbol dalam
flowchart dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu sebagai berikut :
1.
Flow
Direction Symbols
Flow
Direction Symbols disebut juga connecting line yang
digunakan untuk menghubungkan simbol satu dengan yang lain.
|
Simbol
|
Artinya
|
|
|
Simbol
arus/flow, yaitu menyatakan
jalannya arus suatu proses.
|
|
|
Simbol
communication link, yaitu menyatakan transmisi data dari suatu lokasi ke lokasi
lain.
|
|
|
Simbol
connector, berfungsi menyatakan
sambungan dari proses ke proses lainnya dalam halaman yang sama.
|
|
|
Simbol
offiline connector, menyatakan sambungan dari proses ke proses lainnya
dalam halaman yang berbeda.
|
2. Processing
Symbols
Processing
symbols menunjukkan jenis operasi
pengolahan dalam suatu proses/prosedur.
|
Simbol
|
Artinya
|
|
|
Simbol process, yaitu menyatakan suatu
tindakan (proses) yang dilakukan oleh komputer.
|
|
|
Simbol manual, yaitu menyatakan suatu
tindakan (proses) yang tidak dilakukan oleh komputer.
|
|
|
Simbol decision, yaitu menunjukkan suatu
kondisi tertentu yang akan menghasilkan dua kemungkinan jawaban : ya/tidak.
|
|
|
Simbol predefined process, yaitu menyatakan penyediaan tempat penyimpanan suatu
pengolahan untuk memberi harga awal.
|
|
|
Simbol terminal, yaitu menyatakan permulaan
atau akhir suatu program.
|
|
|
Simbol keying operation, menyatakan segala jenis operasi yang diproses dengan
menggunakan suatu mesin yang mempunyai keyboard.
|
|
|
Simbol offline-strorage, menunjukkan bahwa
data dalam simbol ini akan disimpan ke suatu media tertentu.
|
|
|
Simbol manual input, memasukkan data secara manual dengan menggunakan online keyboard.
|
3.
Input/Output
symbols
Input/output symbols menunjukkan jenis peralatan yang digunakan sebagai media input atau output.
|
Simbol
|
Artinya
|
|
|
Simbol input/output, menyatakan proses input
atau output tanpa tergantung jenis
peralatannya.
|
|
|
Simbol punched card, menyatakan input
berasal dari kartu atau output
ditulis ke kartu.
|
|
|
Simbol magnetic tape, menyatakan input
berasal dari pita magnetis atau output
disimpan ke pita magnetis.
|
|
|
Simbol disk storage, menyatakan input
berasal dari disk atau output
disimpan ke disk.
|
|
|
Simbol document, mencetak keluaran dalam
bentuk dokumen (melalui printer).
|
|
|
Simbol display, mencetak keluaran dalam layar
monitor.
|
A. Prinsip-Prinsip
Penyusunan SOP
1. Kemudahan
dan kejelasan
Prinsip
kemudahan dan kejelasan, dimana prosedur-prosedur yang distandarkan harus dapat
dengan mudah dimengerti dan diterapkan oleh semua pegawai.
2. Efisiensi
dan efektifitas
Prinsip
efisiensi dan efektifitas adalah prinsip yang harus dimiliki dalam penyusunan
SOP, dimana prosedur-prosedur yang di standarkan harus merupakan prosedur yang
paling efisien dan efektif dalam proses pelaksanaan tugas.
3. Perhatian
dan keselarasan
Prinsip
perhatian dan keselarasan adalah, dimana prosedur-prosedur yang distandarkan
harus selaras dengan prosedur-prosedur standar lainnya yang terkait.
4. Keterukuran
Prinsip
keterukuran menjadi sangat penting dalam penyusunan SOP, sebab output dari prosedur-prosedur yang
distandarkan mengandung standar kualitas (mutu) tertentu yang dapat diukur
pencapaian keberhasilannya.
5. Dinamis
Prinsip dinamis,
dimana prosedur-prosedur yang distandarkan harus cepat disesuaikan dengan
kebutuhan peningkatan kualitas pelayanan yang berkembang dalam penyelenggaraan
administrasi pemerintahan.
6. Berorientasi
pada pengguna (pihak yang dilayani)
Prosedur-prosedur
yang di standarkan harus mempertimbangkan kebutuhan pengguna (customer’s needs) sehingga dapat memberikan kepuasan pada pengguna yang
disebut dengan berorientasi pada pengguna (mereka yang dilayani).
7. Kepatuhan
dan kepastian hukum
Penyusunan SOP
harus memenuhi ketentuan dan peraturan-peraturan pemerintah yang berlaku, serta
untuk memperoleh kepastian hukum maka prosedur-prosedur yang distandarkan harus
ditetapkan oleh pimpinan sebagai sebuah produk hukum yang ditaati dan
dilaksanakan sehingga menjadi instrument untuk melindungi pegawai dari
kemungkinan terjadinya tuntutan hukum.
B. Format SOP
Secara umum,
format SOP dibagi menjadi empat jenis, yaitu sebagai berikut :
1. Langkah
sederhana (Simple Steps)
Simple
steps adalah bentuk SOP yang paling sederhana. SOP ini
digunakan jika prosedur yang akan disusun hanya memuat sedikit kegiatan dan
memerlukan sedikit keputusan yang bersifat sederhana dan umumnya kurang dari
10 langkah.
2. Tahapan
berurutan (Hierarchical Steps)
Hierarchical
steps merupakan format pengembangan dari simple steps dan digunakan jika prosedur
yang disusun lebih dari 10 langkah. Membutuhkan informasi yang lebih detail
tetapi sedikit pengambilan keputusan.
3. Grafik
(graphic)
Grfik merupakan
format yang memuat proses kegiatan yang panjang dan spesifik. Format grafik
bertujuan untuk memudahkan dalam memahami prosedur yang ada dan biasanya
ditujukan untuk pelaksana eksternal organisasi (pemohon).
4. Diagram
alir (flowcharts)
Flowcharts
merupakan format yang biasa digunakan jika dalam SOP diperlukan pengambilan
keputusan yang banyak(kompleks) dan membutuhkan opsi jawaban (alternatif
jawaban) seperti jawaban “ya” atau “tidak” yang akan memengaruhi sub langkah
berikutnya.
C. Anatomi
dan Pendokumentasian SOP
Anatomi SOP dan
Pendokumentasian SOP memuat hal-hal sebagai berikut :
1. Identitas
SOP
a. Halaman
judul/cover
·
Judul
·
Instansi/Satuan Kerja
·
Tahun Pembuatan
·
Informasi lain yang diperlukan/alamat
instansi
b. Lembar
pengesahan dokumen SOP
c. Daftar
Isi
d. Penjelasan
singkat penggunaan
2. Uraian
SOP
a. Nama
SOP, nama prosedur kerja yang di SOP-kan
b. Satuan
kerja/unit kerja
c. Nomor,
nomor prosedur kerja yang di SOP-kan
d. Tanggal
pembuatan, tanggal pertama kali SOP dibuat
e. Tanggal
revisi, tanggal SOP direvisi
f. Tanggal
efektif, tanggal mulai diberlakukan
g. Pengesahan
oleh pejabat yang berwenang
h. Dasar
hukum
i.
Keterkaitan, keterkaitan dengan standar
kerja yang lain
j.
Peringatan
k. Kualisifikasi
personel
l.
Peralatan dan perlengkapan
3. Flowchart
a. Nomor
b. Aktivitas
c. Pelaksana/aktor
d. Mutu
baku berupa :
·
Kelengkapan
·
Waktu
·
Output
e. Keterangan
D. Teknik
Penyusunan SOP
1. Persiapan
penyusunan SOP
a. Membentuk
Tim dan kelengkapannya
Tim bertugas untuk melakukan identifikasi
kebutuhan, mengumpulkan data, melakukan analisis prosedur, melakukan
pengembangan, melakukan uji coba, melakukan sosialisasi, mengawal penerapan,
memonitor dan melakukan evaluasi, melakukan penyempurnaan-penyempurnaan,
melakukan hasil-hasil pengembangan mereka kepada pimpinan SOP, dan tugas-tugas
lainnya.
b. Memberikan
pelatihan kepada anggota Tim
Seluruh anggota Tim harus memperoleh
pembekalan yang cukup tentang bagaimana menyusun SOP agar mereka melakukan
tugasnya dengan baik.
c. Sosialisasi
SOP keseluruh unit
Untuk mengetahui adanya perubahan yang
dilakukan suatu perusahaan, maka sosialisasi sangat penting terutama bagi
pimpinan.
2. Penilaian
kebutuhan SOP
Penilaian
kebutuhan adalah proses awal penyusunan SOP yang dilakukan untuk
mengidentifikasi kebutuhan SOP yang akan disusun.
a. Tujuan
penilaian kebutuhan SOP
Tujuan penilaian
kebutuhan SOP adalah untuk mengidentifikasi ruang lingkup, format dan jumlah
SOP yang diperlukan.
b. Aspek-aspek
penilaian kebutuhan SOP
1) Lingkungan
operasional
·
Faktor internal meliputi komposisi
unit-unit kerja, jumlah pegawai, jumlah jenis kegiatan yang dilaksanakan sesuai
dengan tugas dan fungsi, sumber-sumber daya yang dibutuhkan, sarana dan
prasarana.
·
Faktor eksternal meliputi tuntutan dan
keinginan stakeholders, hubungan dengan berbagai lembaga/organisasi lain, baik
pemerintah maupun swasta, baik dalam maupun luar negeri, serta berbagai bentuk
jejaring kerja.
2) Kebijakan
Kebijakan disini
maksudnya peraturan, seperti kebijakan perusahaan pada SOP lingkungan
perusahaan atau organisasi.
3) Kebutuhan
organisasi dan stakeholders
Penilaian
kebutuhan organisasi dan stakeholders
berkaitan erat dengan prioritas terhadap prosedur-prosedur yang mendesak untuk
segera distandarkan. Kebutuhan mendesak dapat terjadi karena perubahan struktur
organisasi atau perubahan yang terjadi pada sarana dan prasarana yang dimiliki.
c. Langkah-langkah
penilaian kebutuhan
·
Menyusun rencana tindak penilaian
kebutuhan
·
Melakukan penilaian kebutuhan
·
Membuat daftar SOP yang akan
disusun/disempurnakan
3. Penyusunan
SOP
Penyusunan SOP
pada dasarnya meliputi lima tahapan proses kegiatan secara berurutan yang dapat
digambarkan pada skema berikut :
Penjelasan dari setiap tahapan
penyusunan SOP diuraikan sebagai berikut
:
a.
Pengumpulan
informasi dan identifikasi alternatif
SOP
Beberapa
teknik yang digunakan dalam penyusunan SOP, yaitu :
1)
Teknik
Brainstorming
2) Teknik focus Group Discussion (FGD)
3)
Teknik
Wawancara
4)
Teknik
Survei
5)
Teknik
Benchmark
6)
Telaah
Dokumen
b.
Analisis
dan pemilihan alternatif
Setelah berbagai
informasi terkumpul, langkah selanjutnya adalah melakukan analisis terhadap
alternatif-alternatif yang berhasil
diidentifikasi untuk dibuat SOP.
c.
Penulisan
SOP
Beberapa aspek
yang perlu diperhatikan dalam penulisan SOP, yaitu :
1.
Jenis
SOP
2.
Format
SOP
3.
Prinsip-prinsip
penyusunan SOP
4.
Anatomi
dan pendokumentasian SOP
5.
Tingkatan
kerincian/Detail
6.
Monitoring
d.
Pengujuan
dan Review SOP
Langkah-langkah
pengujian dan review SOP adalah sebagai berikut :
1.
Rancangan
2.
Simulasi
3.
Penyempurnaan
4.
Persiapan
uji coba
5.
Uji
coba
6. Review
e.
Pengesahan
SOP
Pengesahan SOP
dilakukan oleh pejabat yang memilikiwewenang dalam penetapan SOP.
Bab.2
Manajemen Waktu
A.
Pengertian
Pengelolaan atau Manajemen Waktu
Pengertian
manajemen waktu menurut beberapa para ahli :
·
Forsyth
Manajemen
waktu adalah cara bagaimana membuat waktu menjadi terkendali sehingga menjamin
terciptanya sebuah efektifitas dan efisiensi juga produktifitas.
·
Orr
Manajemen
waktu adalah sebagai kemampuan menggunakan waktu secara efektif dan efisien
untuk memperoleh manfaat yang maksimal.
·
Atkinson
Manajemen
waktu adalah sebagai suatu jenis keterampilan yang berkaitan dengan segala
bentuk upaya dan tindakan seorang individu yang dilakukan secara terencana agar
individu tersebut dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.
Dari beberapa
uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa manajemen waktu adalah suatu kemampuan
individu dalam menggunakan waktu secara efektif dan efisien sehingga tercapai
produktifitas yang maksimal. Efektif
berarti tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan. Sedangkan efisien
berarti berarti bahwa tugas yang dilaksanakan secara benar, terorganisir dan
sesuai dengan jadwal.
B.
Fungsi
dan Tujuan Manajemen Waktu
fungsi dan tujuan manajemen waktu adalah sebagai
berikut :
1.
Membantu
kita membuat prioritas.
2.
Mengurangi
kecenderungan untuk menunda.
3.
Membantu
menghindari “tabrakan waktu”.
4.
Memberi
kebebasan dan kendali,
5.
Membantu
menghindari perasaan bersalah.
6.
Membantu
mengevaluasi kemajuan.
C.
Efek
Manajemen Waktu
Orr dan Tracy mengatakan bahwa efek-efek manajemen waktu dibagi menjadi 10 macam,
yaitu :
1.
Dapat
meningkatkan keteraturan hidup, percaya diri dan disiplin.
2.
Dapat
meningkatkan kualitas kehidupan diluar jam kerja.
3.
Dapat
meningkatkan penghasilan pada tiap individu.
4.
Dapat
meningkatkan kepuasan kerja pada individu.
5.
Dapat
mengurangi kesalahan yang dibuat dalam pekerjaan.
6.
Dapat
mengurangi jumlah krisis yang dihadapi individu.
7.
Menurunnya
tingkat stress pada individu.
8.
Dapat
menyelesaikan lebih banyak pekerjaan dan memperoleh prestasi kerja yang baik.
9.
Dapat
meningkatkan kecepatan kerja.
10.
Dapat
meningkatkan kualitas dan produktivitas kerja.
Sedangkan Forsyth mengemukakan bahwa dampak dari
penggunaan manajemen waktu adalah sebagai berikut :
1.
Memiliki
prioritas yang jelas dalam bekerja.
2.
Dapat
mengurangi keterlambatan dan kesalahan dalam bekerja.
3.
Dapat
tepat waktu dalam melakukan suatu pekerjaan.
4.
Memiliki
kemampuan untuk tetap berkonsentrasi terhadap pekerjaan sehingga dapat
meningkatkan produktifitas kerja yang baik.
5.
Dapat
melatih kebiasaan disiplin untuk hal-hal yang berhubungan dengan waktu sehingga
pekerjaan yang dilakukan akan lebih efisien.
D.
Aspek-Aspek
Manajemen Waktu
Menurut Atkinson
, aspek-aspek dalam manajemen waktu adalah sebagai berikut :
1.
Menetapkan
tujuan
Menetapkan
tujuan dapat membantu individu untuk memfokuskan perhatian kearah tujuan atau
sasaran yang hendak dicapai dan merencanakan sesuatu yang harus dikerjakan
dalam batasan waktu yang tersedia sehingga dapat mencapai target yang
diinginkan.
2.
Menyusun
prioritas
Urutan prioritas dibuat berdasarkan peringkat, yaitu
dari prioritas yang tinggi sampai dengan prioritas yang terendah. Hal tersebut
dikarenakan waktu yang tersedia terbatas dan tidak semua pekerjaan memiliki
nilai kepentingan yang sama.
3.
Menyusun
jadwal
Menurut Taylor,
fungsi dari pembuatan jadwal adalah agar individu dapat menghindari bentrokan
kegiatan, menghindari kealpaan, dan mengurangi ketergesaan.
4.
Bersikap
asertif
Bersikap asertif yaitu mampu mengekspresikan diri
dengan penuh percaya diri dan secara langsung dan penuh dengan jujur, jelas,
sopan santun dan tidak mengganggu hak orang lain.
5.
Menghindari
penundaan
Jika terjadi penundaan dalam menjalankan tugas dapat
menyebabkan ketidakberhasilan dalam menyelesaikan pekerjaan tepat pada
waktunya, kemudian merusak jadwal kegiatan yang telah disusun dan mengganggu
tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.
6.
Meminimumkan
waktu yang terbuang
Kegiatan yang memboroskan waktu merupakan segala
bentuk kegiatan baik pasif maupun aktif yang dilakukan secara berlebihan serta
diluar jadwal dan perencanaan. Maka dari itu kita perlu meminimumkan waktu yang
tebuang dengan cara mengidentifikasi sumber-sumber pemborosan waktu dan
memperkirakan berapa persen waktu dalam sehari yang terbuang untuk kemudian
mengambil tindakan guna mengendalikan kegiatan-kegiatan yang menyita waktu.
Canfield juga mengemukakan bahwa aspek-aspek
manajemen waktu mencakup hal-hal sebagai berikut :
1.
Perencanaan
Perencanaaan diperlukan untuk membuat seseorang
tetap pada pilihannya untuk menyeleksi pekerjaan yang ada dengan didorong oleh
tekad yang kuat untuk menyelesaikan tugas sampai tuntas.
2.
Menetapkan
prioritas
Menentukan prioritas berarti seseorang berusaha
untuk menentukan dari sekian banyak hal yang harus dikerjakan dan mana yang
perlu didahulukan berdasarkan tingkat kepentingannya.
3.
Melakukan
delegasi
Martin dan Osborne mengemukakan bahwa delegasi
artinya menyerahkan suatu pekerjaan kepada orang lain yang dinilai lebih tepat
dan dapat menyelesaikan suatu pekerjaan tersebut sehingga waktu yang kita
miliki lebih efisien.
4.
Disiplin
diri
Disiplin diri akan mengarahkan individu untuk berorientasi
pada tugasnya sendiri dan menghindarkan diri dari hal-hal yang bisa menghambat
penyelesaian tugas.
E.
Faktor-Faktor
yang Memengaruhi Manajemen Waktu
Srijanti mengemukakan
bahwa faktor-faktor yang dapat memengaruhi manajemen waktu adalah sebagai
berikut :
1.
Adanya
target yang jelas
2.
Adanya
prioritas kerja
3.
Penundaan
pekerjaan
4.
Pendelegasian
tugas
5.
Penataan
ruang kerja
F.
Prinsip-Prinsip
Manajemen Waktu
1.
Menyusun
rencana
Apabila kita menjalankan hari ini tanpa ada gambaran
dan tidak tahu bagaimana cara mengerjakannya, kita hanya membuang-buang waktu
saja. Maka dari itu perlu menyusun rencana agar dapat mengelola waktu
dengan baik.
2.
Fokus
Kita tidak boleh mengerjakan pekerjaan dalam waktu
bersamaan, karena itu akan menjadi beban dan belum tentu hasilnya bagus. Maka
buatlah skala prioritas apabila kita harus menyelesaikan beberapa pekerjaan
dalam kurun waktu bersamaan.
3.
Hindari
interupsi
Dua hal yang menjadi interupsi saat ini adalah
telepon dan e-mail. Tentu saja ini
tidak bisa dihindarkan. Maka cara menanganinya adalah :
·
Jawab
telepon hanya dari orang yang berkepentingan saja pada saat kita fokus bekerja.
·
Cek
e-mail disaat-saat tertentu saja.
G.
Teknik
Manajemen Waktu
Agar manajemen waktu dapat berjalan sesuai dengan
yang diharapkan, maka ada beberapa teknik yang digunakan yaitu sebagai berikut
:
1.
Teknik
manajemen waktu berdasarkan skala prioritas
a.
Menentukan
skala prioritas
Ketika membuat skala prioritas, kita harus
mengurutkan terlebih dahulu dari yang paling penting dan medesak, hingga yang
tidak mendesak sama sekali. Ada empat criteria skala prioritas, yaitu sebagai
berikut :
1)
Mendesak
dan penting (Urgent and Important)
Pekerjaan yang penting dan mendesak harus
diprioritaskan untuk diselesaikan lebih dulu. Contohnya mengantar keluarga yang
kecelakaan kerumah sakit.
2)
Penting
(Not Urgent but Important)
Pekerjaan dengan prioritas seperti ini, sebaiknya
disikapi dengan menjadwalkan pekerjaan kembali. Kegiatan ini mencakup
kegiatan-kegiatan penting yang dapat dilakukan secara bertahap, rutin dan
terjadwal sehingga apabila muncul kegiatan darurat, tidak akan terlalu
mengganggu pencapaian target-target lainnya. Contohnya relaksasi, mengerjakan
tugas lebih awal, olahraga terjadwal dan sebagainya.
3)
Mendesak
(Urgent but Not Important)
Pekerjaan ini kadang dating dari orang diluar
lingkungan kerja anda. Misalnya mereka minta bantuan anda. Kegiatan-kegiatan
ini adalah kegiatan yang tidak penting namun terpaksa dilakukan. Contohnya
menerima tamu dan menemani tamu, mengantar adik, menemani teman dan sebagainya.
4)
Tidak
mendesak dan tidak penting (Not Urgent
and Not Important)
Pekerjaan seperti ini sebaiknya dihindari. Kegiatan
ini adalah kegiatan yang dilakukan secara berlebihan dan mengakibatkan tingkat
kepentingannya rendah. Contohnya menonton televise dan tidur secara berlebihan.
b.
Langkah-langkah
menyusun prioritas
Ada beberapa langkah dalam menyusun prioritas, yaitu
sebagai berikut :
1)
Periksa
kembali tujuan-tujuan besar dalam hidup anda beserta target waktu
pencapaiannya. Contohnya 1 tahun, 3 tahun,
atau 5 tahun ke depan.
2)
Pencapaian
tujuan-tujuan besar dapat dipecah menjadi tujuan-tujuan kecil yang dikerjakan
secara bertahap.
2.
Teknik
Manajemen Waktu Berdasarkan Delegasi
Delegasi adalah pemberian otorisasi atau kekuasaan
formal dan tanggung jawab untuk melaksanakan kegiatan tertentu kepada orang
lain. Pelimpahan otoritas oleh atasan kepada bawahan diperlukan agar organisasi
dapat berfungsi secara efisien karena tak ada atasan yang dapat mengawasi
pribadi setiap tugas-tugas organisasi.
Unsur-unsur yang menyangkut delegasi antara lain
sebagai berikut :
a.
Apa
yang diberi didelegasikan
b.
Saling
terbuka antara diberi delegasi dan menerima delegasi
c.
Transparansi
tentang delegasi
d.
Ada
harapan yang diserahi delegasi
e.
Kekuasaan
yang diserahi sepenuhnya
f.
Pengawasan
yang wajar
g.
Orang
yang diserahi delegasi
Ada empat hal
yang harus diperhatikan dalam proses delegasi, antara lain sebagai berikut :
1.
Dalam
pemberian suatu delegasi kekuasaan atau tugas haruslah dibarengi dengan
pemberian tanggung jawab.
2.
Kekuasaan
yang didelegasikan harus kepada orang yang tepat baik dari segi kualisifikasi
maupun segi fisik.
3.
Mendelegasikan
kekuasaan pada seseorang juga harus dibarengi dengan pemberian motivasi.
4.
Pimpinan
yang mendelegasikan kekuasaannya harus membimbing dan mengawasi orang yang
menerima delegasi tersebut.
Dengan demikian
pendelegasian kekuasaan mempunya manfaat ganda, diantaranya sebagai berikut :
1.
Pimpinan
dapat lebih fokus pada tujuan dan pekerjaan pokoknya
2.
Putusan
dapat dibuat dengan lebih cepat dan tepat
3.
Inisiatif
dan tanggung jawab bawahan dapat dimotivasi
4.
Mendidik
dan mengembangkan bawahan sehingga mampu diberi beban tugas yang lebih besar.
3.
Teknik
Manajemen Waktu Berdasarkan Asertif
Dalam bersikap asertif, seseorang dituntun untuk bersikap jujur
terhadap dirinya dan jujur pula dalam mengekspresikan perasaan, pendapat dan
kebutuhan secara proporsional, tanpa ada maksud untuk memanipulasi,
memanfaatkan atau merugikan pihak lain.
Ada beberapa strategi waktu asertif yang berguna
dalam menanggapi situasi yang cenderung menjadi konflik , yaitu sebagai berikut
:
a.
Memberikan
umpan balik
b.
Meminta
umpan balik dari orang lain
c.
Menentukan
batasan
d.
Membuat
permintaan
e.
Berlaku
persisten
f.
Membingkai
kembali
g.
Mengabaikan
provokasi
h.
Merespon
kritik
H.
Evaluasi
Penggunaan Waktu
Mengevaluasi waktu berarti kita akan mengevaluasi
hal-hal yang telah dan kelak akan dilakukan. Dengan melakukan evaluasi
manajemen waktu, kita dapat mengenali bagaimana penggunaan waktu dalam sehari
sehingga dapat menemukan hal-hal mana saja yang menurut kita berlebihan porsi
waktunya dan mana yang kekurangan porsinya.
I.
Faktor
Penghambat Pengelolaan Waktu
Kadang kala rencana kita tidak berjalan sebagaimana
mestinya. Sering muncul hal-hal penting atau tidak penting yang menghambat
kelancaran pengelolaan waktu, faktor-faktor tersebut antara lain :
1.
Mengerjakan
pekerjaan yang disukai terlebih dahulu terutama pada waktu puncak, baru
menyelesaikan pekerjaan yang kurang diminati.
2.
Mengerjakan
pekerjaan yang mudah terlebih dahulu pada waktu puncak, dan mengerjakan
pekerjaan yang sulit pada waktu lembah.
3.
Mengerjakan
pekerjaan darurat/mendesak sebelum mengerjakan pekerjaan penting.
4.
Menunda-nunda
pelaksanaan pekerjaan hingga mendekati batas waktu
5.
Menyusun
skala prioritas bukan berdasarkan tingkat kepentingannya.
6.
Terperangkap
memenuhi tuntutan yang mendesak dan memaksa.
Bab 3.
Otomatisasi Administrasi Perkantoran
A.
Pengertian
Otomatisasi Perkantoran
Otomatisasi
kantor adalah penggunaan alat elektronik untuk memudahkan komunikasi formal dan
informal terutama berkaitan antara komunikasi informasi dengan orang-orang di
dalam dan di luar perusahaan untuk meningkatkan produktivitas.
Berikut ini adalah konsep dari otomatisasi kantor :
1.
Proses
yang terjadi di perkantoran seperti halnya proses manufaktur selalu mengarah ke
otomatisasi.
2.
Otomatisasi
kantor berevolusi dari aplikasi-aplikasi yang terpisah dan tanpa rencana menuju
aplikasi yang terencana dan terpadu.
3.
Otomatisasi
kantor memudahkan penerimaan dan pengiriman informasi.
4.
Otomatisasi
kantor memberikan keuntungan lebih besar melalui pengambilan keputusan yang
lebih baik.
5.
Otomatisasi
kantor sebagai pelengkap bagi metode komunikasi tradisional bukan sebagai
pengganti.
B.
Tujuan
Otomatisasi Perkantoran
Otomatisasi
kantor mempunyai tujuan secara umum, diantaranya sebagai berikut :
1.
Penggabungan
dan penerapan teknologi
2.
Memperbaharui
proses pelaksanaan pekerjaan dikantor
3.
Memningkatkan
produktivitas dan efektivitas pekerjaan
4.
Memberikan
kemampuan antar manajer untuk saling melakukan komunikasi dengan lebih baik
dalam memecahkan masalah
5.
Peningkatan
komunikasi dapat menghasilkan keputusan yang lebih baik dan lebih cepat.
Akan
tetapi otomatisasi kantor mempunyai tujuan yang lebih spesifik untuk masa kini,
yaitu sebagai berikut :
1.
Pendapatan
yang lebih tinggi versus penghindaran biaya
2.
Komputer
tidak menggantikan pekerjaan saat ini tetapi komputer menunda penambahan
pegawai yang diperlukan untuk menangani beban kerja yang bertambah
3.
Pemecahan
masalah kelompok atau tim
4.
Cara
otomatisasi kantor berkontribusi pada komunikasi ke dan dari manajer membuatnya
sangat cocok diterapkan untuk memecahkan masalah kelompok
5.
Dapat
digunakan sebagai pelengkap, bukan pengganti
6.
Sebagai
suatu cara berkomunikasi bisnis
C.
Manfaat
Otomatisasi Perkantoran
Berikut
ini adalah beberapa manfaat yang dapat diperoleh perusahaan dalam pemanfaatan sistem
otomatisasi kantor, yaitu sebagai berikut :
1.
Menyelesaikan
pekerjaan kantor dengan lebih cepat
2.
Mengurangi
kebutuhan akan staf dalam jumlah besar
3.
Memerlukan
sedikit tempat untuk menimpan data
4.
Beberapa
orang dapat memperbarui data secara bersamaan dalam hal perubahan jadwal
D.
Dampak
Otomatisasi Perkantoran
Otomatisasi
perkantoran tidak dapat dipisahkan dari teknologi perkantoran sebab otomatisasi
merupakan bentuk pengembangan teknologi, dalam hal ini pergeseran dari
teknologi manual kepada teknologi otomatis.
Penggunaan otomatisasi pada penjelasan diatas tentu
saja akan menimbulkan beberapa dampak, seperti berikut ini :
1.
Dampak
Terhadap Pekerja dan Pekerjaan
Teknologi
dapat menyebabkan pengangguran dan menciptakan pekerjaan baru. Misalnya telepon
jarak jauh tidak membutuhkan operator, tapi jumlah pegawai perusahaan
telekomunikasi meningkat karena jumlah telepon yang harus ditangani meningkat. Pegawai yang bekerja
dengan mesin, harus memiliki keahlian tertentu.
a.
Angkatan
kerja wanita
Wanita yang bekerja terus meningkat. Tahun 1970, 40%
pekerja industry adalah wanita, menyebabkan pria pension lebih cepat dan anak
laki-laki harus sekolah lebih tinggi. Wanita lebih banyak paruh waktu, sehingga
banyak lowongan bagi pekerja paruh waktu.
b.
Pekerja
professional dan teknis
Meningkatnya permintaan barang dan jasa karena
pertambahan penduduk dan pendapatan membutuhkan banyak pekerja professional dan
teknis.
c.
Manajer
dan administrator
Perubahan organisasi menyebabkan gaji manajer naik.
Manajer terlatih dibutuhkan untuk program litbang dan membuat keputusan dengan
teknologi. 60% pekerja tidak secara langsung memproduksi barang. Rasio manajer
dan buruh adalah 5 banding 7.
d.
Pegawai
administrasi
Pegawai administrasi merupakan posisi yang terus
meningkat. Ini karena meningkatnya industri jasa dan mereka tidak terkena
dampak otomatisasi.
2.
Dampak
Terhadap Pendidikan dan Pelatihan Pegawai
Perubahan
struktur pekerjaan menyebabkan permintaan terhadap pegawai yang terampil terus
meningkat. Pekerja dengan pendidikan tinggi yang terus bertambah memaksa mereka
bekerja sebagai pegawai administrasi. Selain itu, lowongan kerja hanya
diberikan kepada mereka yang memiliki pendidikan formal. Akibatnya, peluang
kerja bagi nonsarjana terbatas, terjadi pengangguran, dan ketidakpuasan pekerja
yang merasa pendidikannya lebih tinggi dari persyaratan kerja.
3.
Dampak
Terhadap Manajemen Menengah
Dampak
manajemen menengah dalam perusahaan mencakup berbagai pekerjaan yang berbeda
dengan perusahaan lain. Manajemen menengah terdiri dari semua manajer yang berada
dibawah tingkat pengambilan kebijakan.
Ada dua alasan mengapa pekerjaan manajemen menengah
tidak berkurang dengan adanya komputer. Pertama, keputusan manajerial pada
tingkatan ini terlalu jauh dari analisis mekanik. Kedua, adanya peralatan
otomatisasi yang membuat pekerjaan menjadi lebih cepat tidak berarti bahwa
peralatan tersebut akan digunakan.
4.
Dampak
Terhadap Operasi Perusahaan
Adanya
otomatisasi membuat banyak perusahaan mulai memusatkan operasional mereka
menggunakan sistem informasi komputer dikantor pusat untuk mengumpulkan,
mengolah dan mengirim data keseluruh dunia.
E.
Pengguna
Otomatisasi Kantor
Otomatisasi
kantor digunakan oleh semua orang yang bekerja didalam kantor. Pada dasarnya
ada empat kategori pemakai otomatisasi kantor, yaitu sebagai berikut :
1.
Manajer
Manajer adalah orang yang bertanggung jawab
mengelola sumber daya perusahaan, terutama SDM.
2.
Professional
Professional tidak mengelola orang, tetapi
menyumbangkan keahlian khususnya(misalnya pembeli, wiraniaga, dan asisten staff
khusus). Manajer dan professional secara bersama dikenal sebagai pekerja
terdidik.
3.
Sekretaris
Sekretaris biasanya ditugaskan pada pekerja terdidik
tertentu untuk melaksanakan berbagai tugas seperti menangani korespondensi,
menjawab telepon, dan mengatur jadwal pertemuan.
4.
Pegawai
administrasi
Pegawai administratif melaksanakan tugas-tugas untuk
sekretaris, seperti mengoperasikan mesin fotocopy, menyusun dokumen, menyimpan
dokumen dan mengirimkan surat.
F.
Penggunaan
Peralatan dalam Otomatisasi Kantor
Sedikit
mereview teknologi perkantoran yang lazim diterapkan, umumnya mencakup
penggunaan peralatan yang dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1.
Dilihat
dari tenaga penggeraknya
a.
Mesin
manual ialah mesin-mesin yang digerakkan oleh tenaga manusia
b.
Mesin
listrik (elektrik) yaitu mesin-mesin yang digerakkan oleh tenaga listrik atau
batrai.
2.
Dilihat
dari cara kerja dan komponen mesinnya
a.
Mesin
mekanik yaitu mesin-mesin yang rangkaian komponennya tampak bergerak dalam
operasinya
b.
Mesin
elektronik yaitu mesin-mesin dengan rangkaian komponen elektronik, berupa
kabel-kabel.
3.
Dilihat
dari fungsinya dalam berbagai pekerjaan kantor
a.
Mesin-mesin
untuk mencatat bahan keterangan diantaranya adalah mesin tulis, mesin dikte,
mesin penomor, dan asahan penulis.
b.
Mesin-mesin
untuk menghimpun bahan keterangan diantaranya adalah pembuka surat, mesin
penjilid, pemotong kertas dan pencatat uang kas.
c.
Mesin-mesin
untuk mengolah bahan keterangan diantaranya adalah mesin jumlah, mesin hitung
dan komputer.
d.
Mesin-mesin
untuk memperbanyak bahan keterangan diantaranya mesin stensil, mesin stensil
spiritus, mesin fotocopy, mesin offset dan berbagai mesin cetak.
e.
Mesin-mesin
untuk mengirimkan bahan keterangan diantaranya adalah telepon dan interphone,
teleprinter, dan facsimile.
f.
Mesin-mesin
untuk menyimpan bahan keterangan diantaranya adalah microfilm, penghancur
kertas, dan pelubang kertas/kartu.
G. Jenis-Jenis
Aplikasi Otomatisasi Kantor
1. Pengolah
Kata (word Processing)
Pengolah kata merupakan penggunaan
alat elektronik yang secara otomatis melaksanakan banyak tugas-tugas yang
diperlukan untuk menyiapkan dokumen, baik yang ditik maupun yang dicetak.
2. Surat
Elektronik (electronic mail)
Surat elektronik merupakan
penggunaan jaringan komputer yang memungkinkan para pengguna untuk mengirim,
menyimpan dan menerima pesan-pesan dengan menggunakan terminal komputer dan
alat penyimpanan.
3. Voice
Mail
Voice mail merupakan pengiriman
pesan yang dilakukan dengan mengucapkan pesan tersebut melalui telepon. Pesan
yang telah masuk ke voice mail dapat didengar kembali dengan cara menghubungi
nomor voice mail menggunakan telepon.
4. Kalender
Elektronik (Electronic Calendering)
Kalender elektronik merupakan
penggunaan jaringan komputer untuk menyimpan dan menyusun agenda acara yang
telah ditetapkan oleh manajer. Kalender elektronik hanya menyusun terjadinya
komunikasi, bukan untuk mengomunikasikan informasi.
5. Konferensi
Audio (Audio Conferencing)
Konferensi audio merupakan
penggunaan peralatan komunikasi suara untuk membuat suatu hubungan audio dengan
orang-orang yang tersebar secara geogrsfis dengan tujuan melaksanakan
konferensi. Keuntungan konferensi audio adalah sebagai berikut :
a. Biaya
peralatan yang diperlukan untuk konferensi audio berada dalam jangkauan semua
perusahaan
b. Orang-orang
merasa santai berbicara di telepon
c. Konferensi
audio dapat disiapkan dalam waktu singkat
6. Konverensi
Video
Konferensi video merupakan
penggunaan peralatan televise yang mengirim dan menerima sinyal audio dan video
untuk menghubungkan para peserta konferebsi yang tersebar secara geografis.
Dengan adanya konferensi video, orang yang berada di suatu lokasi dapat melihat
dan mendengar suara orang lain yang berada di lokasi berbeda.
Ada tiga konfigurasi yang umum
digunakan, yaitu :
·
Video satu arah dan audio satu arah.
·
Video satu arah dan audio dua arah.
·
Video dan audio dua arah.
7. Konferensi
Komputer (computer conferencing)
Computer
conferencing adalah penggunaan
jaringan komputer, sehingga memberi kemampuan seseorang untuk melakukan
pertukaran informasi selama proses terjadinya konferensi.
8. Transmisi
Faksimile/FAK (Faximile Transmission)
Transmisi facsimile merupakan
penggunaan peralatan khusus yang dapat membaca citra dokumen pada satu ujung
saluran komunikasi dan membuat salinannya di ujung yang lain.
9. Videotext
Video
text merupakan penggunaan komputer untuk tujuan
memberikan tampilan materi tekstual pada layar CRT.
10. Pencitraan (Imaging)
Pencitraan merupakan pengenal
karakter secara optik untuk mengubah catatan-catatan kertas atau microform menjadi format digital untuk
disimpan didalam alat penyimpanan sekunder.
11. Desktop
Publishing (DTP)
Desktop
publishing merupakan penggunaan
komputer dan perangkat lunak untuk membuat tampilan visual dari ide dan
informasi dalam output tercetak yang
kualitasnya sangat mirip dengan yang dihasilkan dengan typesetting.
H.
Penerapan
Otomatisasi dalam Administrasi Perkantoran dengan Virtual Office
Sebuah
kantor virtual adalah kombinasi dari off-situs alamat tinggal komunikasi dan
layanan yang memungkinkan pengguna untuk mengurangi biaya kantor tradisional dengan
tetap menjaga profesionalisme bisnis.
1.
Tahap-Tahap
Penerapan Otomatisasi Kantor
Dalam penerapan otomatisasi kantor, ada beberapa
tahap yang penting untuk diperhatikan seperti berikut :
a.
Tradisional,
penggunaan teknologi utamanya ditujukan untuk mengurangi biaya dan meningkatkan
produktivitas. Terfokus pada penggunaan word
processing, fax, telepon dan lainnya.
b.
Transisional,
ditandai dengan mulai digunakannya proses data secara elektronik sera
dibangunnya aplikasi untuk keperluan pengarsipan, penyimpanan, dan komunikasi
berbasis komputer. Contohnya pembuatan
database.
c.
Transformasional,
merupakan konvergensi telekomunikasi dan informasi (ICT). Contohnya teleconference, videoconference dan
lainnya.
2.
Cara
Menerapkan (Virtual Office)
Beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk
menerapkan kantor maya adalah sebagai berikut :
a.
Menyediakan
sumber daya komputer
b.
Menyediakan
sarana akses kesumber daya informasi
c.
Menyediakan
perlengkapan nonkomputer
d.
Menyiapkan
sarana telepon yang dapat dialihkan
e.
Menyediakan
kelengkapan untuk panggilan konferensi
f.
Membuat
jadwal pertemuan regular
g.
Melaksanakan
urutan-urutan pekerjaan secara teratur
3.
Manfaat
Menerapkan Kantor Virtual dalam Bisnis
a.
Lebih
fleksibel
b.
Hemat
biaya
c.
Banyak
pilihan pekerjaan
d.
Penghasilan
tak terbatas
e.
Banyak
mempunyai waktu luang dengan keluarga
4.
Keuntungan
dan Kerugian Kantor Virtual
Berikut ini adalah beberapa
keuntungan kantor virtual :
a.
Pengurangan
biaya fasilitas
b.
Pengurangan
biaya peralatan
c.
Jaringan
komunikasi formal
d.
Pengurangan
penghentian kerja
e.
Kontribusi
sosial
Selain keuntungan diatas, kantor virtual juga
memiliki kerugian yaitu sebagai berikut :
a.
Rasa
tidak memiliki
b.
Takut
kehilangan pekerjaan
c.
Semangat
kerja yang rendah
d.
Ketegangan
keluarga
2.2.2 Kelebihan
dan Kelemahan Buku 2
Adapun yang menjadi kelebihan pada
buku 2, yaitu sebagai berikut :
· Secara fisik
penampilan buku menarik
· Materi dalam
review buku 2 tidak terlalu banyak
Selain kelebihan diatas, kelemahan
yang terdapat pada buku 2 yaitu sebagai berikut :
· Materi pada
setiap bab dalam buku ini kurang bisa dipahami
· Banyak menggunakan
kata-kata yang sulit dimengerti
· Ada juga
beberapa penjelasan yang tidak terlalu penting untuk dipaparkan
· Sedikit
mengemukakan definisi para ahli
2.2.3 Kesimpulan
Dari
kelebihan dan kelemahan diatas, dapat disimpulkan bahwa materi pada buku 2 kurang
menarik, banyak kata-kata yang terbelit maka sulit untuk dipahami. Sedikit
mencantumkan nama-nama para ahli sehingga kurangnya pengetahuan.
Penutup
3.1.1 Kesimpulan
Adapun yang menjadi kesimpulan pada
review buku 1 dan buku 2 yaitu :
1. Dapat
disimpulkan bahwa materi pada buku 1
terlalu banyak, walaupun demikian kalimatnya mudah dipahami. Tetapi,
sulit untuk menghafal nama-nama para ahli dan isi definisinya yang ada didalam
materi .
2.
Dapat
disimpulkan bahwa materi pada buku 2 kurang menarik, banyak kata-kata yang terbelit
maka sulit untuk dipahami. Sedikit mencantumkan nama-nama para ahli sehingga
kurangnya pengetahuan.
Daftar Pustaka
Widiyanti,Ika.
2014. Administrasi Perkantoran 2 Bidang Keahlian Bisnis dan Manajemen. Jakarta:
Yudhistira
R,
Sri Endang dkk. 2013. Pengantar Administrasi Perkantoran 2 Bidang Keahlian
Bisnis dan Manajemen. Jakarta: Erlangga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar